Proyek P3-TGAI HIPPA Apaan Jaya Disorot, Pondasi Diduga Tak Digali dan Material Dipertanyakan, BBWS Brantas Didesak Turun Tangan
Proyek P3-TGAI HIPPA Apaan Jaya Disorot, Pondasi Diduga Tak Digali dan Material Dipertanyakan, BBWS Brantas Didesak Turun Tangan
Temuan tersebut mencuat setelah tim media melakukan peninjauan langsung ke lokasi proyek pada Minggu (12/7/2026). Sejumlah bagian konstruksi memunculkan pertanyaan serius mengenai kualitas pelaksanaan pekerjaan yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Berdasarkan dokumen gambar teknis yang diperoleh media, pondasi pasangan batu direncanakan memiliki kedalaman sekitar 30 sentimeter. Artinya, sebelum pasangan batu dipasang, seharusnya dilakukan pekerjaan galian pondasi sebagai dasar konstruksi agar bangunan memiliki daya dukung yang memadai.
Namun, hasil pantauan di lokasi memperlihatkan pasangan batu diduga langsung disusun di atas permukaan tanah yang telah diratakan tanpa adanya galian pondasi sebagaimana tergambar dalam dokumen teknis. Dugaan tersebut masih menunggu penjelasan resmi dari pihak pelaksana maupun instansi teknis yang berwenang.
Sorotan tidak berhenti pada persoalan pondasi. Material batu yang digunakan juga menjadi perhatian. Batu yang terpasang diduga merupakan batu sirtu atau batu kapur, bukan batu gunung yang lazim digunakan pada pekerjaan pasangan saluran untuk menjamin kekuatan, stabilitas, dan umur konstruksi.
Apabila dugaan tersebut terbukti, maka kualitas bangunan dikhawatirkan tidak akan mampu memberikan daya tahan sesuai umur rencana. Lebih jauh lagi, kondisi itu berpotensi mengurangi efektivitas program yang sejatinya ditujukan untuk meningkatkan layanan irigasi bagi masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, media telah berupaya meminta klarifikasi kepada pelaksana HIPPA Apaan Jaya terkait dugaan tidak dilaksanakannya galian pondasi serta penggunaan material yang dipersoalkan. Namun, pihak pelaksana belum memberikan tanggapan ataupun penjelasan resmi.
Media juga masih melakukan konfirmasi kepada Tim Pendamping (TA) P3-TGAI Jawa Timur untuk memastikan apakah terdapat perubahan desain yang telah mendapat persetujuan resmi atau justru terdapat pelaksanaan yang menyimpang dari gambar kerja dan spesifikasi teknis.
Sebagai tindak lanjut, tim media berencana meminta klarifikasi kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas selaku instansi pembina Program P3-TGAI. Klarifikasi tersebut diharapkan mencakup verifikasi mutu material, volume pekerjaan, kedalaman pondasi, serta kesesuaian pelaksanaan dengan spesifikasi teknis dan dokumen perencanaan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga akuntabilitas penggunaan APBN sekaligus memastikan hasil pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Apabila dari hasil verifikasi ditemukan ketidaksesuaian sebagaimana dugaan yang muncul berdasarkan penelusuran lapangan, temuan tersebut dapat menjadi dasar evaluasi administratif maupun audit lebih lanjut oleh instansi yang berwenang. Bahkan, apabila pemeriksaan teknis membuktikan pekerjaan tidak memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan, tindakan perbaikan hingga pembongkaran dan pembangunan ulang terhadap bagian pekerjaan yang tidak sesuai menjadi opsi yang lazim dilakukan demi menjamin kualitas konstruksi serta melindungi kepentingan masyarakat dan keuangan negara. (ARRAY) .
